LKTI 08

Golden Ticket
PUji syukur kehadirat Allah SWT akhirnya aku “dikanggokke” di kampusku ini. Padahal siapa sihh aku tu, orangnya gak gaul, g fungky, g cool, gak handsome, jerawatan, gak puna duit, g puna tabungan, g pinter-pinter amat, dan lain sebagainya (opo tho iki?). Aku “dikanggokke” ikut LKTI 2008 (Lomba Keilmuan Teknik Industri 2008) yang diselenggarakan di TI UI Depok tanggal 8-13 Maret 2008. Lomba ini merupakan lomba tingkat nasional yang selalu diadakan tiap tahun oleh TI UI (menurutku ni lomba kaya olimpiadenya TI gitu). Tiap univ dapat mengirimkan perwakilan 2 tim dan tiap tim terdiri dari 4 orang. Wuih bangga juga nich, gak taunya diajak tuk ikut…Sebenarnya sih aku g diajak, tapi y mungkin Allah memberi kebaikan kepadaku so aku ikut… Uhuyy…

Mulanya UPN akan mengirim 1 tim terdiri dari Kukuh, Helen, Fadlin, dan Koming (kalo g salah) yang didapat dari penunjukan orang-orang HMJ. Fadlin langsung g mau begitu juga Helen. Selanjutnya Koming tidak bisa dikarenakan tgl 6 Maret merayakan hari rayanya. So tinggal Kukuh doank. Karena tim ini belum terbentuk, Kukuh mencari orang-orang yang dianggap mampu. Fadli dan Rian Manado pun dipilih. Selanjutnya aku pun dipilih. Awal mulanya sih aku g mau karena di dalam form perlombaan tersebut ada tulisan bahwa tiap peserta harus bisa menggunakan ProModel, PowerSim, ama Minitab. Aku ngomong ama Kukuh,”Aku ora iso kabeh Kuh!”. Menurutku kalo aku ikut nih malah buat tim ini lemah. Udah ni lomba biayana mahallll buaaangggeettt, lha ini merupakan investasi yang merugikan kalo aku tetep ikut. Untuk tau aja bahwa biaya pendaftaran sebesar 1 juta rupiah, belum termasuk biaya penginapan sebesar 280 ribu sehari (kalo g salah) belum lagi biaya lain-lain seperti makan dan perjalanan. Tetep aja Kukuh memintaku. Ya udah lah akhirnya aku ikut dengan kemampuanku yang ala kadarnya. Setelah direnungin berhari-hari di rumah akhirnya aku merasa ini merupakan momentum aku untuk maju dan untuk pembuktian diri kalo aku mampu. Saat itu terasa seperti dapet “golden ticket” kaya’ di Indonesian Idol gitu deh. Tanggal 8 Februari 2008 kami berempat menemui Pak Tri selaku penanggung jawab keikutsertaan lomba untuk “menagih” uang pendaftaran sebesar 1 juta rupiah. Pada tanggal itulah kami mendaftar dan resmi menjadi peserta LKTI 2008.

penuh perjuangan
Ini lomba bukan cuma nunjuk-nunjuk lalu jadi tim, ngomong ama dosen penanggung jawab, dapet duit langsung berangkat. Tidak semudah itu. Untuk mau ikut aja udah membutuhkan perjuangan yang panjang dan amat memilukan. Ceritanya begini: Sekitar bulan November akhir, UPN (pusat) dapet surat undangan dari UI tuk mengikuti lomba ini. Surat selanjutnya diserahakan ke jur TI. Jur TI menunjuk Pak Tri ama Pak Agus selaku pembimbing dan penanggung jawab  keikutsertaan lomba dan selanjutnya surat ini oleh Kajur diserahkan ke HMJ. Setelah dilakukan “perdebatan” akhirnya dipilihlah keempat orang yang akan mengikuti lomba ini (Kukuh, Helen, Koming, dan Fadlin). Anehnya ini tu cuman penunjukan doank! Masalah dananya BELUM ADA. Salah seorang anggota HMJ ngomong ama Kukuh tuk cari dana sendiri. Biasanya dana didapat dari BINWA ama jurusan (seperti tim tahun kemarin yang ikut lomba ini). Kukuh bilang ama anak HMJ itu yang intinya lho kok yang disuruh lomba kok nyari dana sendiri. Anak HMJ itu cuma bilang,”Ya bagi-bagi tugas lah Kuh!”. Buat proposal sendiri lalu kirim ke BINWA nanti kalo dah dikirim diurus ama anak HMJ. Kalo aku jadi Kukuh, wuiihh aku pasti nyolot, lha HMJ kerjaannya ngapain aja tho? dan pastinya aku akan nge-“prek”-i lomba ini (soir buat all HMJ-ers). Dengan keteguhan hati Kukuh, akhirnya buat proposal, mondar-mandir kesana kemari minta kejelasan, minta pendapat orang lain, bertemu ama dosen, dan lain sebagainya. Jumlah dana yang ditulis di proposal tidak tanggung-tanggung yaitu sekitar 6 juta-an… (wuiihhh ngeri!).

Proposal pun diurus oleh ketua HMJ. Kalo mau minta dana ke BINWA emang harus diurus oleh ketua HMJ. Kalo nggak diurus ama tu orang ato punggawa-punggawanya ya nggak dapet-dapet. Kukuh terus ngomong ama Si Ketua HMJ tolong menghadap ke Kajur agar dapat dana tambahan selain dari BINWA… Denger-denger kalo dapet dana BINWA mungkin cuman 1,5 juta so dana sebesar itu kayakna masih kurang. Si Ketua HMJ pun menghadap ke Kajur. Hasil dari pertemuan tersebut sangat mencengangkan! Bilangnya Pak Kajur kalo harus mendanain sebesar itu (seperti yang tertera di proposal sebesar 6 jutaan) lebih baik bayar orang untuk ngajar sesuatu atau untuk pelatihan ketimbang cuma untuk ikut lomba (What!!!). Mungkin ya karena kalo ikut pastinya nggak mungkin menang…. (Betulll itu).

Kukuh berhari-hari ke kampus tuk cari dana (sendirian), menghadap Pak Tri, Pak Agus, maupun Bu Sekjur. Saat Kukuh menghadap Bu Sekjur, Bu Sekjur “ngendika” ama Kukuh intinya menanyakan berapa banyak sih yang udah daftar (note:ini bisa diketahui dengan melihat group di yahoo dikarenakan bagi peserta yang akan ikut diwajibkan untuk masuk ke group tersebut). Ini seakan-akan emang nggak mau dana-in. Hari-hari berlalu, Kukuh masih tetap kesana kemari, datang ke dosen sana lalu menemui dosen sini, ke anak2 HMJ, hanya untuk mencari dana.

Setelah tim ini terbentuk sempurna (Aku, Kukuh, Fadli, dan Rian Manado) sekitar akhir Januari, kami menghadap ke Pak Tri untuk “sowan” dengan maksud memperkenalkan diri dan mempermasalahkan dana yang masih belum terselesaikan alias belum dapet dana sama sekali. Pak Tri berjanji akan mengusahakan semampunya untuk segera mendapatkan dana (Pak Tri emang Te O Pe dahhh). Tanggal 8 Februari kami berempat menemui lagi Pak Tri di ruangannya untuk membicarakan jadi tidaknya ikut lomba ini. Apabila jadi maka hari ini (8 Feb) harus diberi uang untuk mendaftar karena pada hari ini pula pendaftaran ditutup. Pak Tri pun “ngendika” tim ini harus berangkat. Setelah berbicara cukup panjang, Pak Tri meninggalkan kami di ruangannya untuk menemui Bu Sekjur. Setelah menunggu beberapa menit dengan perasaan yang gundah gulana akhirnya Pak Tri datang dan membawa kabar gembira!! Kami langsung diberi uang 1 juta untuk uang pendaftaran… Yes! finally… Akhirnya ikut… (THX Pak Tri o ya ama Bu Sekjur).

Eit eitt ini belum berakhir. Masih ada masalah yang mengganjal yaitu biaya untuk penginapan, perjalanan, dan sebagainya masih belum ada. Rencananya sih biaya tersebut akan diberi oleh BINWA kalo masih kurang akan ditambah (lagi) oleh jurusan. Day after day.. dana dari BINWA belum turun. Oooghh that’s made us feel…. (nggak bisa ditulis dengan kata-kata). Coba deh lu bayangin kalo jadi kami… Ampe kami tu dah marah di dalam (kalo di luar ya adem ayem aja ama tu Ketua), kok nggak diurus-urus… Bilangnya sih Si Ketua baru sibukk gitu… (cuiihhh).

Kami ngomong ama Pak Tri, masalah ini harus dibagaimanakan… Akhirnya Pak Tri harus turun tangan ke BINWA. Alhasil pertengahan Feb, Pak Tri ditelpon oleh orang BINWA bahwa dana sudah bisa diambil. Berhari-hari pun dana belum diambil (Payah tenan ki HMJ). Setelah hari demi hari berlanjut, dana pun sudah diambil (dapetnya 1,5 juta).

Apakah dana ini sudah bisa dipakai? o belumm. Ini menjadi masalah yang baru. Kata BINWA dana sebesar 1,5 juta ini diambil dari total dana yang akan didapat oleh HMJ (total kucuran dana untuk HMJ per tahun sekitar 6 juta dengan catatan kalo ada agenda yang jelas). Wooo… ini membuat anak-anak HMJ nggak trima. Gimana coba, “nyeot” dana dari HMJ pastinya anak -anak HMJ nggak mau! Kami cuma geleng-geleng, terus ini mau bagaimana? Aku nggak habis pikir, kami malah disibukkan mencari dana bukannya belajar menghadapi lomba… Jadi tidaknya tim kami ikut lomba masih simpang siur. Ibarat di game FM, morality tim kami udah “very low”, kalo dimainkan pasti kalah….

Tanggal 3 Maret kami berempat bersama Ketua HMJ “diundang” oleh Pak Kajur untuk membahas masalah ini. Pak Kajur langsung “ngendika” to the point yang intinya dana emang nggak ada, dana dari BINWA (1,5 juta) gak bisa dipakai karena HMJ nggak terima. Pak Kajur memberi solusi dana diambil dari biaya perjalanan dosen penanggung jawab (dari Pak Tri ama Pak Agus) sebesar 2 juta so Pak Tri ataupun Pak Agus gak bisa mendampingin lomba. Kalo mau dengan dana sebesar itu ya akan diberi kalo enggak ya nggak usah ikut lomba aja. Biaya pendaftaran sebesar 1 juta dianggap hangus aja (wuihh kok gitu sih Pak? kok nggak ada visi gitu lohh). Pak Kajur juga ngendika lebih baik mengeluarkan biaya untuk pelatihan aja ketimbang untuk lomba… Kami berempat bersikukuh tetap mau berangkat, what ever it takes! (kaya’ jagoan aja). “Sidang” itu pun ditutup dengan kesepakatan bahwa kami tetap akan diberangkatkan. Sebelum penutupan, Pak Kajur memberi wejangan bahwa kami ikut lomba hanya untuk memperkenalkan UPN saja di mata nasional (alias tanpa target), jagalah nama baik UPN, that’s it! (emang bener-bener nih Kajur..)

Gila! Masalah bertubi-tubi belum selesai… Uang 2 juta yang dijanjikan belum keluar-keluar… Padahal kami harus berangkat tanggal 6 Maret belum lagi kami harus cari tiket perjalanan.  Kami rencananya akan berangkat naik kereta, ternyata tiket sudah habis untuk minggu itu… Naik bus tidak tau pemberhentiannya… Naik pesawat dapetnya 200rb-an per orang, kami nggak sanggup bayar. Akhirnya kami memutuskan untuk naik travel. Pembayaran travel harus kami “talangi” sendiri… Tanggal 6 (hari keberangkatan), sekitar jam 12 kami baru dapet uang 2 juta…

regret
Sampai di Depok tanggal 7 Maret jam 6 pagi, Kami langsung bersinggah di tempat Om-nya Kukuh. Selama sehari kami bersinggah (thx buat om-nya kukuh telah menampung dan merawat kami). Hari Sabtu (8 Maret) kami check out to UI.. Ohh UI keren abis (ndeso bgt ki aku).. Beda banget ama kampusku. Selama lomba kami berkenalan ama “pemain-pemain” seperti dari UGM (2 tim), dari Univ Andalas Padang (aku kangen ma kalian), dari UMMagelang, dari Unpar, ITS, STTelkom, dari Univ Bung Hatta Padang, dari Univ Langlangbuana, dan lainnya (o y ama “LO” kami dari UI yaitu Harry Lesmana).

Nggak perlu cerita panjang lebar, lomba stage 1 kami pun langsung kalah… Shit! Tanggal 11 Maret kami pun pulang kampung naik kereta. Sorry buat semua mulai dari ibuku yang selalu mengharapkanku menjadi “orang”, Rian Jendral yang berharap tim kami menjuarai lomba agar dapat meninggikan harkat dan martabat UPN, Pak Tri, dan seluruh civitas UPN… IM SORRY…from the bottom of my heart… Lomba ini emang berat! Mulai pagi ampe malem memeras otak. Sebenarnya sih nggak terlalu bgt sih tapi emang kami kurang cepet kalo ngitung make komputer (nggak terbiasa gitu, apalagi pake laptop, aku kan nggak punya!) plus kami emang kurang persiapan gara-gara kelamaan cari dana. Yahh beginilah… akhir yang (tidak) sempurna…

thx to
Salut ama UI yang bisa menghadirkan perlombaan yang sekeren ini. Cool. Two thumbs to UI… And thanks to Kukuh, kalo nggak ada lo mungkin nggak akan ada UPN di UI dan juga yang telah memilihku…. Tidak lupa Pak Kajur, Pak Tri, Pak Agus, dan Bu Sekjur, kalo nggak ada beliau-beliau ini ya nggak bakalan bisa juga…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s