Pendidikan: Swasta Vs Negeri

PENDIDIKAN formal yang ada di Indonesia mulai dari TK, SD, SMP, SMA, sampai dengan Perkuliahan dibedakan menjadi 2 macam dilihat dari kepemilikan, yaitu milik negeri maupun milik swasta. Bukan menjadi rahasia lagi bahwa biasanya orang yang mengenyam pendidikan di negeri akan lebih prestige ketimbang di swasta. Orang akan menilai bahwa pendidikan di swasta identik dengan mahal dan bodoh (inputnya). Apakah ini memang benar adanya atukah hanya isapan jempol belaka?

Disini saya akan bercerita apa yang menjadi pengalaman saya selama ini tentang pendidikan di negeri maupun swasta khususnya di Yogyakarta. Saya lulus TK di TK swasta, SD sampai SMA di negeri, dan saat ini masih kuliah di Perguruan Tinggi swasta. Bapak saya seorang guru SMA swasta, kakak saya guru SMA swasta, adik saya sekolah di SMA swasta pula. Jadi bisa dibilang saya sedikit tahu seluk beluk pendidikan negeri maupun swasta pada umumnya.

Di Yogyakarta, pendidikan formal dari TK sampai SD baik negeri maupun swasta tidak ada perbedaan yang mendasar dari inputnya. Yang menjadi perbedaan yang mendasar adalah masalah biaya. Biaya pendidikan baik TK maupun SD tergantung dari reputasi dan kualitas yang dijamin oleh pendidikan tersebut. Semakin bagus reputasi, fasilitas lengkap, kualitas terjamin, terkenal, ditambah pula jika pemiliknya orang terkenal, maka semakin mahal pula biayanya. Hal semacam Ini akan berbeda apabila sudah masuk ke jenjang SMP, SMA, sampai ke perguruan tinggi. Pendidikan di negeri dan swasta akan mencolok perbedaannya, baik dari segi biaya maupun segi inputnya. Dari segi biaya secara umum swasta akan lebih mahal dibandingkan dengan negeri, tetapi dari segi inputnya secara umum akan lebih baik negeri dibandingkan swasta. Sebagai contoh saat saya masih SMA, biaya SPP per bulan hanya sekitar Rp 20.000,00 sedangkan biaya SPP per bulan SMA swasta terkenal bisa mencapai Rp 125.000,00. Bayangkan, dengan uang sebesar Rp 125.000,00 bisa membayar SPP selama 5 bulan. Bagaimana dengan outputnya? Secara umum bisa dikatakan negeri lebih unggul dalam mencetak lulusannya. Biasanya orang yang masuk di SMP negeri juga akan masuk SMA negeri lain halnya dengan orang yang masuk di SMP swasta juga akan masuk di SMA swasta.

Perbedaan yang lain adalah masalah budaya sekolah tersebut. Murid suka tawuran, mabuk-mabukan, malas-malasan, yang intinya juvenile delinquency akan lebih didominasi pada sekolah swasta. Hal yang aneh-aneh juga terjadi di sekolah swasta. Saat ini kan pemberlakuan belajar tuntas, jadi tidak bakalan anak didik tinggal kelas. Dengan sistem semacam ini menurut saya akan membuat siswa semakin tidak termotivasi untuk belajar atau kata lainnya yang malas semakin malas. Kok? Begini, saya contohkan pada sekolah kakak saya mengajar, murid-murid yang dianggap “malas” yaitu tidak pernah mengumpulkan tugas, tidak ikut ulangan, sering bolos, nilai ujian jelek, dsb. bisa mendapatkan nilai di raportnya. Ini terjadi lantaran ada remidi (mengulang apa yang belum tuntas). Lha kalo kayak gini, apa kata dunia??? Contoh aneh yang lain: raport yang dibagikan kepada orang tua murid tidak fixed, maksudnya masih dalam paper jadi bisa diganti sewaktu-waktu. Dulu saya juga pernah lihat nilai raportnya diisi dengan pencil.. Hmm.. weleh-weleh. Mengapa demikian? Ini dilakukan misal si murid ingin melanjutkan di perguruan tinggi di The Elephant dengan jalur swadaya, nilai raportnya kan bisa diganti… Hmm.. what a?

Bagaimana dengan perguruan tinggi swasta dengan perguruan tinggi negeri? Kalo ini agak sulit, karena tergantung mana yang akan dibandingkan. Misal suatu prodi PT swasta yang “mumpuni” ya bisa menandingi prodi PT negeri atau malah bisa lebih. Tetapi, secara umum (diaggregate) akan lebih bagus negeri. Kalo prodi PT negeri dibandingin ama jurusanku, he he he.. Begini, saya ceritakan hal-hal yang lucu.

Ada seorang mahasiswa “A” yang mengikuti mata kuliah “B”. A jarang masuk kuliah. Ada tugas mata kuliah B, jarang dikumpulkan. Saat pengumuman nilai mata kuliah B, si A terheran heran karena nilai yang keluar D. Si A marah… marah… berang… seluruh hewan di Gembira Loka (kebun binatang) keluar semua.

Kok bisa nilaiku D! anj***, a**, baj*****….

Contoh kedua, kadang ada atau lebih tepatnya banyak dosen yang memberlakukan pemberian nilai tidak berdasarkan nilai asli (nilai asli: A didapat dengan total nilai 80 keatas,dst). Misal dalam semester tersebut nilai mata kuliah X jelek-jelek, ya bagaimana caranya agar nilainya menjadi “lumayan”. Caranya dengan pemberian kuiz, her, nilai maksimum ujian lebih dari 100 (bisa dengan nilai ujian asli ditambah 20 atau 10 sebagai bonus atau ada soal bonus di ujian tersebut) atau penurunan grade (misal nilai A didapat dengan total nilai 70 keatas). Ini dilakukan karena dosen dilema menghadapi persoalan ini. Satu sisi dosen berarti tidak berhasil, satu sisi “takut” ama mahasiswa.

Nilai udah ditambah, masih ada juga mahasiswa yang protes! HUH!!

Weleh-weleh….

Contoh-contoh diatas merupakan gambaran umum, pendidikan di negeri VS pendidikan di swasta. Misalkan ini berlangsung terus, apa yang akan terjadi 10, 20, 30 tahun kemudian?? tidak ada yang tahu? wallahualam… Ayo! Pendidikan Indonesia bangkit…

Emang bangkit dari kubur??

Advertisements

8 responses to “Pendidikan: Swasta Vs Negeri

  1. salam kenal,

    inilah quovadis pendidikan kita kali ya Mas…

    wallahu’alamu memang…

  2. salam kenal juga pak…

    Bapak guru ya.. he he.. maaf ya pak, ini tulisan emang agak nyleneh.. tp ya ini unek-unek saya, ketimbang marah dipendem dalam hati.. stress dong..

  3. dulllu………….. BANGET.
    waktu aku masih jadi anak negri (alias slalu skul di skul negri..) aku juga punya pandangan kalo’ skul swasta tu cuman untuk status doang.
    pokok’e negri is the best.

    tapi ternyata…
    omong kosong coy!!!
    wktu UMPTN/SPMB or apapun namanya..

    aku GAGAL!!
    tet tot..

    terpaksa dengn brat hati ortu masukin aku ke PT swasta.
    awal aku pikir kul- nya ecek- ecek, pokok’e gak da pa-panya lah kalo dibanding negri.

    kembali aku ‘ditampar’.
    waktu aku smt 2,aku ambl data tuk tugas
    aku ketemu ank dari PTN dari fak yang sama.
    minder oy..

    tapi stlh beberp minggu..
    aku penasaran penelitian ank PTN tu.
    ternyata.. JUDUL KAMI SAMA!!!
    bedanya.. dia pake untuk skripsi,
    aku pake untuk tugas reguler.
    yang bikin jengkel lagi…

    teori atopun referensi- referensi
    yang ditolak sama dosenku
    dengan alasan macem- macem (dinilai nggak bagus pokoknya)
    itu diijinin sama dosennya dia.

    WHAT????

    stelah ‘pukulan’ itu..
    aku mule cari tau MK tmasuk silabus PTN tu.
    TERNYATA
    apa yang harus ditempuh ditempatku
    selama satu smt dengan beban enam sks sekaligus,
    di PTN bisa ditempuh hingga tiga semt dengan beban tiga sks tiap smt-nya.
    nggak heran masuk tahun ke-2 ato bahkan ke-3 banyk yang milih pindah ke PTN
    walopun hrus dengan jalur D (alias duwit atau extension)

    WHAT??
    gitu caranya bahagia hidupku.

    udah gitu, tugas kajian literatur di PTN sudah dianggap memberatkan.
    bagaimana denganku yang selalu punya tugas penelitian (bukan cuma sekedar kajian literatur) yang ada di hampir seluruh mata kuliah di tiap smt???

    iseng..
    aku masuk perpus PTN dan mbaca skripsi buatan mahasiswa disana..
    sial, ternyata masih lebih mutu baca tugas anak smt1 ditempatku.

    dari judulnya aja ditempatku pasti ditolak langsung. walaupun cuma skedar dijadikan judul tugas penelitian reguler biasa.

    yang paling nohok…
    karna aku PT swasta, mayoritas yg masuk jg dari skul swasta.
    aku pkr krna aku slalu brasal dari skul negri favorit dengan cara jujur (yang brarti aku nggak bodo- bodo amat)..
    pasti aku nggak bakal ksulitan.

    TERNYATA..
    aku ksulitan, dan tidk hanya aku.
    tapi juga sluruh ank dari SMU Negri laennya.

    ini murni bukan karna duit yang bicara,
    tapi kapasitas otak.
    dan juga kebutuhan untk berprestasi
    yang telah ditanamkan sjak dini
    di sektor pendidikan swasta
    dan nyaris tidak ada di sekolah negri.

    smua yang berprestasi hingga tingkt internasional di PT tempat aku mnuntut ilmu mayoritas ank dari SMU swasta.

    so…
    sapa bilang skul swasta tu buruk?

  4. terima kasih atas tambahan faktanya.. emang kontroversial sih tulisan saya..

    Yup.. seperti yang saya tulis sebelumnya, kalo membandingkan univ negeri ama univ swasta emang susah. Tidak selamanya swasta kalah dalam hal kualitas. Nah untuk membandingkannya mendingan antar jurusan.. so seperti comment Bro Angga (weh nama kita sama lho..). Temen saya saat kerja praktek jg menemui kejadian yg bro alami. Waktu dia KP di salah satu pabrik susu di jogja, dia bertemu ama mahasiswa dari univ negeri di jogja yg sedang melakukan penelitian (skripsi). Ternyata judulnya sama juga bro.. bedanya dia untuk skripsi, nah temen saya untuk KP. Dia cerita ma saya, sambil ketawa aja… he he he.. bisa bro bayangin deh rasanya kek mana…

    Nah kalo di SMP ato SMA, keknya ndak bisa bohong bro.. Kalo pada umumnya negeri lebih unggul ketimbang swasta (khususnya di Jogja, kalo di Jakarta keknya sekolah swasta lebih keren ya ketimbang negeri…). Masalahnya kan kurikulum negeri ama swasta sama, bedanya dikit kok, cuman ada tambahan pelajaran untuk swasta (ex: untuk sekolah muhammadi**h ada tambahan pelajaran keagamaan seperti tarikh dll), trus ada ujian terpusat juga (UAN/UNAS)..

    Nihh saya ceritakan lagi kejadian yang mungkin akan lebih “cool”, kemarin waktu penerimaan raport, kk saya “didatangi” murid + orang tuanya. Orang tuanya komplain, kok nilai anaknya 6 di mata pelajaran kk saya. Nah di raport anaknya tersebut ada 3 mata pelajaran yang nilainya 6 (btw Di sekolah tersebut memberlakukan ada 3 mata pelajaran dengan nilai 6 akan tinggal kelas). “Pisowan” tersebut intinya mo minta ganti nilai biar anak tersebut naik kelas.. Beeehhh….

    Kk saya langsung aja nanya anak tersebut di depan ortunya. “X” (nama anak) kamu masuk pelajaran saya dah berapa kali? Si X menyahut: ee.. 2 kali pak.. “Ohh dua kali ya? dua kali selama setahun kan?” GUBRAKKKKK……..
    Gimana coba… keren gak tuh… Kalo setau saya sih, negeri ndak ada gitu2an..

    Btw ini pengalaman pribadi aj… saya saat jadi “anak negeri” akan cenderung sombong dalam artian kalo bertemu ato bercakap-cakap “anak swasta” ya kayak gimana gitu lohh.. Ini terjadi waktu smp dan sma. Kalo saya kenalan ato ada temen yg masuk sekolah swasta, ya agak gimana gitu, eee.. menunjukkan kenegeriannya lahh 😀

    Nahh, sekarang saya dibalas ama yang DI ATAS, saya masuk univ swasta, nah kalo saya kenalan ma anak negeri, beehh… keliatan banget bro… yahh bisa bro bayangkan lahh… NEGERI GITU LOOHHH…. Apalagi waktu Maret lalu, saya ikut lomba di univ negeri di jakarta, beehhh… ada anak institut terkenal di Band**g, sombingnya minta ampuunnn… Sepertinya di dagu mereka itu ada kayu penyangganya, so mereka hanya bisanya menengadah, tidak bisa menunduk… 2 kali “gerombolan” mereka menumpahkan minuman di tempat kami, mereka hanya diam saja, no regret, no say sorry… beeeehhh… WHAT A? Yah saya jadi sadar, mm.. semoga saya tidak terjerumus lagi untuk membuat orang lain membenci saya..

    Masalah hasil akhir itu memang semuanya tergantung dari diri masing-masing. Apakah dia sekolah di negeri ato swasta tapi… ini dia yang menurut saya yang bisa menjadi faktor yang paling berpengaruh. Tergantung kita milih jurusan dan di univ mana kita melanjutkan jenjang pendidikan kita… Walaupun tidak dipungkiri ada juga orang yang sukses tanpa kuliah, tanpa sekolah, kuliah di univ “ecek-ecek” dsb. Ya diliat dari omongan/pengalaman banyak orang, tergantung jurusan dan univnya bro.. Seperti bro Angga, kuliah di jurusan X univ Y yg mungkin sangat terkenal and bonafit, banyak link perusahaan dsb. Ya cepet dehh dapat job. Sebagai contohnya pilih masuk KU UNS ato KU UPH? kan mending KU UPH kan bro?

    Pengalaman saya waktu ngelamar kerja praktek, behhh ditolak terus, dgn alasan tidak ada tempat, tdk menerima, dsb.. Usut punya usut di perusahaan2 ttt kalo mahasiswanya bukan dari negeri ndak bakalan diterima ato kalo ndak ada chanell ndak akan diterima…

    Misal bro jadi interviewer, ada 2 pelamar, yang satu dari univ negeri dan yang satu dari univ swasta, biar sepadan univ negeri terkenal dan univ swasta terkenal pula. Nilai IPK anak tersebut sama dgn kemampuan yg tidak jauh beda. Kalo disuruh milih satu diantara 2 tersebut mana yang bro pilih? Kalo saya ditanya pastinya saya pilih yang dari negeri bro… he he he..

    Itulah sekelumit realita dunia.. kejamnya dunia, mungkin.. 😛

  5. hm…
    agak sulit ya kalo lsg ‘gebyak uyah’ soal sekolah negeri ma swasta. soalna di kampusku tuh yang dulunya dari SMU negeri pada akhirnya kul-na keteteran. paling cepet spinter- pinternya anak yang dari SMU negeri itu lulus 4tahun. tapi kalo yang dari SMU swasta paling lambat lulus 4tahun. kebanyakn lulus 3,5 tahun bahkan 3tahun.

    sakit nggak sih bok?
    btw, aku ndak di Jakarta tuh..

    masalh kerjaan,
    sayangnya di tempatku
    utamana yang dari fak. ekonomi tuh mayoritas bapakna emang dah pada punya prusahaan. so yah mreka gak ribet cari kerja. lagian di temptku juga kayak dah jaminan kalo kmu emank pinter bgitu lulus kmu dijadikan dosen luar biasa dl, diskolahin S2 bisa di kampus sendiri bisa di LN bru diangkat jadi dosen tetap.
    makanya aku bilang di swasta dorongan ntuk berprestasi tuh jauh lbih bsar daripada negri. pngin dapet jaminan kerja yah usaha jadi yang tbaik.

    yang aku tau, aku dinegri tuh tuk dapet beasiswa gampangnya minta ampun syaratnya.
    tapi kalo di temptku, ntuk dapet beasiswa pnuh, nilamu hrus tertinggi se- angkatan tuk masing- masing fakultas. ato waktu ujian masuk, nilaimu tertinggi. nah, kalo nggak mampu cuma dpet ptongan 50%. untungnya, sjak smt awal kamu bsa kja sambilan di kampus sendri, mulai jadi surveyor untuk menjaga mutu kampus, kja diperpus, kja di admin (bisa admin pusat, bisa admin lembaga apapun di yg ada di bwah nama kampus -terserah-), ato profesi khusus lainnya tergantung fakultasmu (tiap fakultas punya lowongan dewe2). ato kalo kamu males kja, jadi aktivis di kegiatan kampus juga bisa dpet beasiswa. kisarannya lumayan.

    ntar smt 5, yang paling gengsi jadi assisten mahasiswa dengan bayaran terendah 13.500/sks. ntar tiap smt -ato tiap ikut platian- ntar bayarannya naek.

    nah, kalo kmu orang yang pinter ato minimal aktif. bru deh bisa kul gratis tmasuk dapet uang jajan, gak kyak kul negri. gak usah pinter- pinter amt dah dapet beasiswa. makanya kita mahasiswa terpacu trus tuk usaha.

    kebiasaanya, bgitu lulus bagi yang bukan anaknya direktur, kita bukannya cari kerja tapi bkin kerjaan dengan modal dana smasa kuliah kerja sambilan.

  6. nah kalo aku jadi interviewer, aku bakalan milih anak yang punya struggle. tidak berdasar ma IPK. byak alumnus ditemptku IPKnya dibwah 2,75 tapi kja di prusahaan bsar dengan posisi lumayan. yah krena struggle-nya tuh tadi.

  7. lucunya, kmpusku tuh nggak tkenal di Indonesia slain Indonesia timur. di Jogja jg nggak bnyak yang tau. pkoknya nggak se-tkenal UPN yang punya cbang dmana- mna.

  8. wah… emang kampusku terkenal ya? aq aja baru kenal kampusku setelah diajakin daftar di sana…. hihihihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s